Kala itu di siang terik sekolah menengah atas, lapangan berderu suara musik perayaan lomba hari pahlawan. Baju doreng-doreng dan hasduk merah putih menjadi ciri khas setiap peringatan hari Pahlawan. Begitu pun dengan ku, atasan kemeja putih potongan crop tee dengan kesan ala militer, dan bawahan celana doreng milik kakekku yang saat kupakai pinggangnya sangat longgar jadi terpaksa aku beri sabuk sekolahan.
Dibawah sudah ramai penduduk sekolah tetapi kebanyakan dari mereka lalu lalang menuju kantin. Pembawa acara dengan suara cempreng dan bass nya mengisi ruang kosong seantero sekolah. Mereka saling bersautan satu sama lain demi kemeriahan acara Osis tersebut. Aku hanya berdiri di beranda kelas yang ada di lantai tiga. Terlalu malas untuk turun dan aku tidak seberani itu duduk atau bercanda ria didepan kelas orang lain. Apalagi kelas yang di bawah kebanyakan kelas anak kelas dua belas. Menurut ku aneh saja anak bau kencur yang baru beberapa bulan menjadi anak SMA dan dengan pede nya ber haha hihi didepan kakak kelas. Dikira nya songong.
Tidak lama panitia Osis yang tergantung keplek dengan tali warna kuning berjalan kearah kelas di lantai tiga. "Ayo dek, semua yang didalem kelas turun, ya." kata kakak Osis yang berwajah oval dikuncir kuda.
Setelah turun aku tidak tahu harus kemana. Karena di tengah lapangan sudah terkena terik matahari. Siapa juga yang mau duduk panas-panasan di lapangan. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di segerombolan teman sekelasku. Mesipun duduk di bawah pohon yang ranting nya sangat mengganggu.
Acara nya sangat membosankan dengan tempat duduk terhalang oleh ranting-ranting pohon. Tetapi lumayan juga daripada duduk dikelas, hitung-hitung siapa tau ada cowok ganteng kakak kelas. Kuedarkan mata ke segerombolan siswa yang berteriak seru dan menurutku mereka over doing. Tidak perlu lah sampai teriak-teriak dan berdiri seperti itu, toh hanya sehari ini. Buang-buang tenaga saja. Segerombolan siswa di samping yang kuketahui mereka adalah siswa kelas sepuluh jurusan IPS. Oh pantas saja seperti itu. Kan anak IPS emang lebay.
Tetapi ada satu yang menarik perhatianku. Seseorang lelaki yang hanya tersenyum melihat acara didepan, tidak tertawa terpingkal seperti yang lainnya dan hanya menanggapi seperlu nya ketika bercanda dengan temannya. Kulitnya tidak putih seperti idaman kebanyakan remaja. Rambutnya lebat di tengah dan ada kumis tipis cikal tumbuh bakal lebat. Sangat berkharisma.
Seseorang lelaki itu yang membuat masa remaja ku seperti permen nano nano. Tidak, aku tidak pernah berpacaran dengannya. Di awal memang aku mengatakan ada penyesalan, tetapi bukan berarti aku menyesal karena menyia-nyiakan cinta atau semacamnya. Kehidupan percintaan ku di SMA tidak seperti di novel atau drama korea. Aku menyesal karena hal lain yang tidak aku lakukan di saat itu.
Setelah beberapa kali aku fikirkan aku memang perlu melakukan kesalahan untuk menjadi pelajaran di masa depanku. Karena dari kesalahan atau kekurangan yang dulu pernah aku lakukan, aku bisa mengetahui sesuatu yang tidak pernah aku sadari. Saat ini aku sangat berterimakasih pada orang-orang yang sudah terlibat di kehidupanku dulu. Karena mereka adalah saksi proses ku hingga saat ini, meski mereka hanya bisa mendekskripskan ku dengan satu kata.
Lain kali akan aku lanjutkan bagaimana hubungan ku dengans eorang lelaki tersebut. Tugas yang menanti sudah meminta perhatianku, dan aku harus menanganinya. Sampai jumpa, Loves




